Nunukan – Kisah Aiptu Wahyudi mungkin bukanlah yang paling menggema di antara cerita-cerita pahlawan tanpa tanda jasa. Namun di kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dedikasi dan perjuangan seorang polisi yang menjadi kepala sekolah di Taman Kanak-kanak Baitul Izza telah menjadi insipirasi banyak orang. Aiptu Wahyudi, S.H dengan NRP 81110902 yang sehari-hari menjalankan tugas sebagai BA UNIT BINMAS POLSEK NUNUKAN, memiliki misi yang lebih jauh dari sekadar penegakan hukum: mencerdaskan putra-putri bangsa.
Kegiatan Wahyudi di TK Baitul Izza mencerminkan komitmen seorang polisi dalam membina dan memberikan fondasi yang kuat bagi pendidikan usia dini Nunukan. TK binaan tersebut bukan hanya menjadi tempat bertumbuh bagi anak-anak melainkan juga menunjukkan bagaimana kegiatan sosial polisi dapat mendukung peran polisi dalam pendidikan.
Sebagai kepala sekolah, Aiptu Wahyudi tidak hanya mengurus administratif atau kebijakan sekolah tetapi juga secara aktif terlibat dalam program Bina Lingkungan TK yang menitikberatkan pada pengembangan sekolah komunitas. Pembinaan anak-anak TK di bawah asuhannya dilakukan dengan penuh kecintaan dan kesabaran. Ini merupakan manifestasi nyata dari kontribusi personal Aiptu Wahyudi di pendidikan.
“Hadirnya polisi di tengah masyarakat tak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pembina sosial yang peduli pada generasi muda. Ini yang coba saya wujudkan di TK Baitul Izza,” tutur Aiptu Wahyudi dalam salah satu dialog komunitas di Nunukan.
Kegigihan dan upaya Aiptu Wahyudi dalam meluangkan waktu dan tenaganya untuk mendidik anak-anak di TK Baitul Izza membuktikan bahwa dedikasi untuk pembangunan kecerdasan bangsa tidak terbatas pada profesinya sebagai Bhabinkamtibmas. Seluruh kegiatan dan inisiatif yang beliau terapkan menciptakan nilai dan perubahan yang signifikan bagi semua pihak yang terlibat.
Pengalaman dan dedikasi Aiptu Wahyudi membuka wawasan bahwa peran serta polisi dalam pendidikan, khususnya di era digital saat ini, sangatlah penting. Keterlibatan aktif anggota kepolisian dalam pembinaan anak-anak tidak hanya membentuk generasi yang cerdas secara akademis tapi juga dalam kecerdasan sosial dan emosional.
Kisah inspiratif Aiptu Wahyudi ini semoga dapat memotivasi banyak pihak tentang betapa pentingnya kontribusi setiap individu, tidak terkecuali para penegak hukum, dalam mendorong kemajuan pendidikan anak bangsa. Sehingga ke depan, kita dapat melihat lebih banyak lagi integrasi antarprofesi dalam membentuk fondasi yang kuat bagi anak-anak Indonesia di masa depan yang gemilang.